Rabu, 11 November 2009

Puncak Aksi One Man One Tree di Gunung Sasak


Puncak Aksi Gerakan One Man One Tree (OMOT) di Lombok Barat (Lobar) pada 18 November mendatang akan dipusatkan di kawasan Gunung Sasak Desa Kuripan Selatan Kecamatan Kuripan. Dalam puncak aksi di hutan lindung seluas 10 hektar itu akan ditanam 11 ribu batang bibit dari jenis mahoni, jati putih dan nangka.

Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Lobar, Ir. H.L. Syaiful Arifin menjelaskan, dipilihnya Gunung Sasak sebagai tempat puncak aksi OMOT karena lokasi ini merupakan hutan kota yang nantinya akan dikelilingi perumahan dan perkantoran. Gunung Sasak juga merupakan latar belakang Kota Gerung. "Kalau Gunung Sasak gundul, tentu Kota Gerung akan terlihat gersang," ujarnya.
Pertimbangan lainnya, ujar Syaiful, karena Kuripan merupakan jalur by pass menuju Bandara Internasional Lombok. Di samping itu nantinya Gunung Sasak akan dijadikan sebagai tempat out bond dan kemah bagi para pelajar. Dan yang tak kalah pentingnya di hutan ini juga masih ditemukan rusa langka yang tentunya harus dilindungi."Karena kondisi hutannya gersang, rusapun kadang masuk ke kampung sehingga dikira hewan aneh," tutur Syaiful.
Kegiatan OMOT tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena akan dilombakan antar SKPD se Lobar. Kalau pada tahun sebelumnya, usai tanam lalu ditinggalkan, maka tahun ini tidak lagi. Sebab pada lahan seluas 10 hektar tersebut akan dibagi menjadi 40 petak (25 are), di mana pada tiap petak itu nantinya akan dipelihara oleh masing-masing SKPD. Dengan demikian masing-masing SKPD punya tanggung jawab untuk memelihara bibit yang sudah ditanam, sehingga tidak terkesan hanya sekedar tanam lalu ditinggalkan.
"Petak dengan hasil pemeliharaan terbaik dan terburuk akan diumumkan pada puncak aksi tahun berikutnya," tukas Syaiful.
Pada acara puncak aksi ini nantinya akan dilakukan penandatanganan 3 MoU, yakni antara PDAM Menang-Mataram dengan Institusi Multi Pihak (IMP) terkait jasa lingkungan, MoU Pemkab Lobar dengan UNRAM terkait program Go Green (menuju hijau), di mana nantinya anak sekolah diberikan ekstra kurikuler mencintai lingkungan. Selain itu diteken juga MoU antara Dishut Lobar dengan Lembaga Pengembangan Usaha Mandiri (LPUM) dalam rangka pengembangan kacang koro.
Tanaman kacang koro ini sebagai tumpang sari memanfaatkan kawasan hutan di bawah tegakan. Ini bermanfaat untuk mencegah erosi sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat. "Tanaman ini tidak perlu dirawat, tidak disukai hewan, dan hasilnya bisa 4 ton per hektar," papar Syaiful.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar