
Pembangunan Lombok Barat (Lobar) kini benar-benar bermuara di desa. Upaya membangun masyarakat desa terus digalakkan sejak awal kepemimpinan pasangan Zaini-Mahrip memimpin Gumi Patut Patuh Patju ini. Salah satu upaya membangun masyarakat desa tersebut adalah dengan mendirikan perpustakaan desa. Tak tanggung-tanggung 88 desa di Lobar kini telah memiliki perpustakaan.
Bupati Lobar Dr. H. Zaini Arony, M.Pd mengatakan, upaya membangun desa adalah dengan pemberdayaan masyarakat desa itu sendiri. “Salah satunya dengan diluncurkannya perpustakaan desa untuk 88 desa di Lobar,” ujarnya pada acara launching 88 perpustakaan desa se-Lobar di Kediri, senin (19/1).
Dikatakan Zaini, perpustakaan sangat perlu dikembangkan dalam rangka membangun ilmu pengetahuan. Oleh karena itu diharapkan agar perpustakaan dapat memberi makna bagi masyarakat.
“Jangan hari ini kita melaunching, tapi besok lusa tak ada maknanya,” ujarnya.
Zaini menceritakan, saat dirinya masih menjabat Kepala Dikpora NTB, pernah dilakukan inspeksi mendadak ke sejumlah perpustakaan SMA. Ternyata hanya sekitar 20-23 persen siswanya yang punya minat baca. Begitu pula gurunya hanya 17 persen saja yang membaca atau meminjam buku di perpustakaan.
Ironisnya lagi, dari seluruh koleksi buku perpustakaan, yang rata-rata paling senang dibaca adalah bacaan fiksi. Sedangkan buku-buku non fiksi justru kurang diminati. Ini menunjukkan bahwa budaya baca dan tulis menulis masih kurang. Apalagi perubahan dari program lama yaitu Sarjana Muda ke Sarjana (S1), tidak selalu menekankan bagaimana budaya tulis menulis. Ini menyebabkan masyarakat pada akhirnya bertambah malas.
Diungkapkan juga, dari data yang dimiliki dan dipelajari, ternyata tingkat budaya baca masyarakat Lobar masih sangat rendah. ”Jadi, transisi dari budaya tutur ke budaya baca, ke budaya tulis, itu masing sangat jauh,” kata Zaini.
Oleh karena itu Zaini menyarankan seluruh kepala desa (kades) serta Kepala Perpustakaan Lobar selaku penanggung jawab Perpustakaan Desa, untuk sekali waktu mengadakan semacam lomba resensi buku.
”Coba dikembangkan lomba meresensi atau resume sebuah buku. Supaya taman bacaan masyarakat atau perpustakaan jangan hanya jadi tempat penumpukan buku,” ujarnya.
Lebih lanjut dijelaskan Zaini, perpustakaan dan koleksi buku memiliki 4 fungsi yakni fungsi edukasi, transformasi, sosialisasi, dan informasi. Empat fungsi inilah yang diperankan oleh guru, tokoh, instruktur selama kegiatan pembelajaran tatap muka dilaksanakan.
Jika ada tatap muka, lanjutnya, ilmu yang dimiliki akan bisa disampaikan kepada audiens atau masyarakat umum. Dalam fungsi edukasi ini juga, punya keterkaitan dengan fungsi pembelajaran yakni berbagai macam ilmu pengetahuan yang diperoleh.
“Tidak mungkin Allah menurunkan perintah membaca kalau kira-kira tidak penting,” tegasnya.
Fungsi berikut dari perpustakaan adalah sosialisasi yaitu menyampaikan pesan untuk suatu masalah kebudayaan. Jika pada fungsi transformasi, setelah membaca akan terjadi perubahan perilaku dan pengetahuan, maka dalam fungsi sosialisasi lebih merupakan suatu sikap.
Fungsi berikutnya adalah informasi, di mana bahan bacaan atau perpustakaan dapat memberikan suatu informasi kepada pembacanya. Sedemikian pentingnya fungsi perpustakaan tersebut, Zaini berharap kepada para kades agar terus menambah koleksi buku.
“Apalagi saat ini ADD (anggaran dana desa, red) telah dinaikkan, maka boleh disisihkan pembelian koleksi buku,” terangnya sembari menjelaskan bahwa tidak mungkin Pemkab Lobar akan dapat memberikan koleksi buku secara serentak.
Namun demikian Zaini mengingatkan agar jangan sampai membeli buku yang tidak berguna. Diharapkan untuk membeli buku yang praktis dan pragmatis. “Misalnya buku tentang bagaimana beternak ayam buras, dan ikan lele, maupun buku-buku praktis menyangkut dunia kesehatan masyarakat.“ (L.Pangkat Ali – PH Pranata Lobar)
Selasa, 19 Januari 2010
Lobar Launching 88 Perpustakaan Desa
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar